Keterkaitan al-Qur'an terhadap Pembelajaran Nahwu dan Sharāf


Artikel ini saya buat untuk memenuhi salah satu Tugas Akhir mata kuliah E-Learning  kelas A
 Nama : Iik Fitriatus Sanah
Nim : 932503015
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA)Fakultas Tarbiyah dan  Ilmu Keguruan 

      Keterkaitan al-Qur'an terhadap Pembelajaran Nahwu dan Sharāf

           kita mengetahui bahwa wahyu yang kitabnya masih suci dan terjaga hanyalah Al-Qur’an. Ayat-ayat  Al-Qur’an diturunkan dalam dua periode yaitu periode sebelum hijrah dari Makkah ke Madinah dan periode setelah hijrah masih tetap dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.
             Rasulullah menerima dan mengajarkan Al-Qur’an dengan hafalan, karena nabi Muhammad Saw. adalah seorang nabi yang ummi, yakni tidak bisa membaca dan menulis. Apabila terdapat suatu surah atau ayat turun maka rasulullah segera menghafalnya dan segera pula mengajarkanya kepada para sahabatnya, sehingga para sahabat benar-benar menguasainya, dan beliaupun menyuruh para sahabat tersebut menghafalnya.Setelah itu para sahabat mengulang berkali-kali mengulang ayat atau surah tersebut. Setelah merasa yakin menghafalnya kemudian mereka menanyakan kepada nabi dengan pertanyaan adakah aku sudah hafal sebagaimana diturunkan? Mereka baru berhenti setelah Rasulullah membenarkannya.
            Setelah hafal dan menguasai secara sempurna para hafidz kemudian menyebarluaskan kepada para sahabat lain atau anak-anak yang tidak menyaksikan turunya wahyu tersebut.  
            Meskipun rasulullah adalah seorang ummi akan tetapi beliau cepat untuk menghafal dan dhābit atau orang yang kuat hafalanya karena beliau mempunya empat sifat kenabian, diantaranya adalah fathanah yang berarti pintar.
            Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar As-Shiddiq adalah pengganti kekhalifahan untuk memimpin umat muslim. pada masa ini khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ini mulai di bubukannya Al-Qur’an dalam bentuk mushaf. Abu Bakar As-Shiddiq mengutus Zaid bin Tsabit, sebagai penulis wahyu dan seorang hafidz serta sebagai sahabat. Lalu ia mengumpulkan tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an yang terdapat di pelepah-pelepah kurma, batu-batu, dan juga para penghafal Al-Qur’an. Dan di kumpulkan menjadi satu mushaf. Abu Bakar As-Shiddiq mengutus Zaid bin Tsabit mengumpulkan karena pada saat itu banyak para hafidz Qur’an yang wafat di medan pertempuran Yamamah, mencapai 70 para hafidz yang gugur, dan Abu Bakar As-Shiddiq takut kemurnian Al-Qur’an terancam karena banyaknya  para hafidz yang gugur.
            Dari uraian di atas kita tau bahwa para hafidz Al-Qur’an menjaga kemurnian Al-Qur’an dalam segala aspek termasuk bahasanya. Meskipun kemurnian, kemuliaan Al-Qur’an itu sudah tertera  dalam kitab  Allah SWT. Al-Qur’an sekaligus penyempurna dari kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan ke bumi. Al-Qur’an dijaga oleh Allah SWT dari segala  bentuk penyimpangan dan perubahan.  Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:
إِنَّ نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَفِظُوْنَ (الحجر: 9)
Artinya “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(Qur'an Surat Hijr Ayat 9).
Partisipasi Al-Qur’an dalam pembelajaran bahasa Arab antara lain:
1.      Kitab suci Al-Qur’an mengabadikan kosa kata bahasa Arab
            Al-Qur’an turun dengan 30 juz, 114 surat, 6666 ayat dengan begitu banyak kosa kata yang terdapat di dalam  Al-Qur’an, sehingga seorang hafidz mudah kita dalam nenpelajari bahasa Arab. Dengan mempelajari atau menghafalkan Al-Quran  akan memperoleh banyak istilah-istilah atau kata yang terdapat di dalam Al-Quran .
2.      Kitab suci Al-Qur’an mengandung gaya bahasa atau uslub bahasa Arab
            Kitab  suci  Al-Quran  mencapai tingkat  tertinggi  dari  segi  keindahan bahasanya  dan  sangat  mengagumkan bukan  saja  bagi  orang-orang  mukmin, tetapi juga orang kafir. Banyak menggunakan majaz (kata kiasan) , kinayah (sindiran), tasybih (tamsil) yang menggunakan kaidah bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf.
3.      Kitab suci Al-Qur’an mengankat level atau martabat bahasa Arab
            Umat muslim meyakini mempelajari dan memahami Al-Quran  adalah kewajiban agama, dengan seperti itu mampu mengangkat drajat bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran.
4.      Kitab suci Al-Qur’an memunculkan ma’na baru dalam lafadz bahasa Arab
            Kitab suci Al-Quran datang untuk umat  manusia  dan  bukan  semata-mata untuk bangsa Arab saja, datang dengan membawa  penjelasan  berbagai persoalan seperti tauhid, aqidah, syariat dan  hukum-hukum,  sejarah,  akhlakul karimah.  Persoalan-persoalan  tersebut diatas  tidak pernah  dikenal  sedikitpun oleh bangsa Arab sebelumnya.
5.      Kitab suci Al-Qur’an menguatkan lahjah (dialek atau logat) bahasa Arab
            Apabila seseorang membaca atau menghafalkan Al-Qur’an, maka akan berbicara denagan fasih sesuai dengan makhārij Al-Hurūf sehingga tercipta dialek atau logat berbahasa Arab yang bagus.
            Peranan bahasa Arab terkait denagan agama yang pertama yaitu bahsa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan Hadits dikutip dari kata pengantar redaksi majalah as-Sijl al-Ilm menyebutkan bahwa tujuan belajar bahsa Arab sebagai bahasa asing: (a) untuk mengnal dan memahami dua dasar pedoman kaum muslimin yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits dan syariatnya, (b) untuk mengadakan kontak dengan bahasa Arab dan mendapatkan jabatan di pemerintahan, (c) untuk tujuan keahlian dan mendalaminya.
            Selanjutnya, peranan bahasa Arab dalam agama tampak terlihat dari upaya cara ibadah misalnya, ungkapan seseorang yang memanggil atau mengajak seseorang untuk melaksanakan shalat atau disebut juga dengan adzan dan dilanjutkan iqamah itu menggunakan bahasa Arab begitu pula dengan ibadah Shalatnya yang juga mengunakan bahasa Arab.
            Denagan begitu kita dapat menarik kesimpulan hubungan tahfidz Qur’an terhadap pembelajaran kaidah bahasa Arab yaitu: dengan adanya upaya para hafidz Qur’an terdahulu menjadikan kemurnian Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab  terjaga, sehingga terlahirlah ilmu nahwu dan sharaf.
           nah, dari penjelasan tentang Al-Qur'an diatas, mari kita membaca tentang bagaimana pembekalan ilmu nahwu dan shorof sebagai kaidah bahasa Arab  di dalam Al-Qur’an?
            Ilmu nahwu shorof yang membahas kaidah-kaidah tata bahasa Arab  yang paling mendasar justru sangat diperlukan dalam memahami literatur-literatur  yang berbahasa arab terutama al-Qur'an.[8] Nahwu dan sharaf seperti yang telah saya paparkan di atas bahwa nahwu adalah cara menentukan perubahan akhir kalimat sedangkan sharaf adalah perubahan bentuk kata.
            Al-Qur’an adalah faktor adanya ilmu nahwu, karena untuk memahami isi kandungan ayat Al-Qur’an itu digunakan ilmu nahwu dan sharaf meskipun, terdapat beberapa ayat yang nahwu dan sharafnya diperselisihkan Akan tetapi dari segi balaghah-nya benar. Berikut peta kajian nahwu dan sharaf
  1.  Peta kajian nahwu dan sharaf
            Isim adalah kata benda atau kata kerja yang tidak disertai waktu contoh الكِتاَبُ عَلَى الكِتَابِ
            Fi’il (kata kerja) adalah kalimah yang memiliki arti tersendiri bermakna melakukan suatu perbuatan, mampu memberi pengertian dan dipahami meskipun berdiri sendiri. Fi’il juga disebut dengan kata kerja yang  terikat oleh waktu  yang dimaksud adalah waktu yang sudah dilakukan (fi’il mādhi), waktu yang sedang berlangsung (fi’il mudhāri’), dan waktu yang akan atau belum dilakukan, itu pada fi’il mudhāri’ dan  amar
           Harf  adalah kalimah yang dapat berfungsi dengan baik apabila di rangkai atau digabungkan dengan  fi’il dan  isim.
1.       isim
       Ilmu sharaf      
       Ilmu nahwu
1.    Bangunan isim:
a.   Isim ghoiru shahīh ākhir
(maqshūr, manqūsh, mamdūd)
b.   Isim shahiīh ākhir
2.    Nakirah dan Ma’rifat
a.   Isim nakirah
b.   Isim ma’rifat: dhamīr,’alam, isim isyārat, isim mawshūl, isim ma’rifat karena alif lām, isim diidhāfatkan kepada ma’rifat munāda
3.    Jenis isim
a.   Isim mudzakkar dan isim mua’nnats
4.    Isim dan jumlah
a.    Mufrad
b.    Mutsannā.
c.    Jama’: jama’ mudzakkar sālim, jama’ mua’nnats sālim, jama’ taksīr
5.    Rupa-rupa isim
a.   Isim jāmid
b.   Isim musytaq
6.    Tashgir
7.    Nisbat
1.    Isim mu’rob
a.    Isim marfū’:mubtada’, khabar, isim kanna, khabar inna, fa’il, nāibul fa’il, tawābi’isim marfū’
b.    Isim manshūb: khabar kanna, isim inna, mafūl bih, mafūl mutlaq, mafūl liajlih, mafūl ma’ah, mafūl fih, hal, mustatsna, munāda, taymīz, tawābi’isim manshūb
c.    Isim majrūr: Isim majrūr karena huruf jār, Isim majrūr karena idhāfat, Isim majrūr karena tawābi’
2.    Isim mabni
a.    Ddhamīr
b.    Isim isyārat
c.    Isim mawshūl
d.    Isim syarath
e.    Isim istifhām
f.      zharaf mabni zharaf
g.    Isim fi’il


a.       Pengertian dari isim maqshūr, manqūsh, mamdūd 
Isim maqshūr adalah isim mu’rob berhuruf akhir alif lāzimah atau tsābitah. Alif ditulis dalam bentuk  ا misalnya:  العصاatau alif tersebut ditulis dalam bentuk ى misalnya: فتى .
Isim mamdūd adalah isim mu’rob yang huruf terakhirnya adalah hamzah, dan sebelum hamzah adalah huruf alif zāidah  ( ا )misalnya:  سماء - صخراء
Isim manqūsh adalah  isim mu’rab yang huruf terakhirnya adalah ya’tsabitah (permanen) yang huruf sebelumnya berharokat kasroh misalnya: الداعى - الوادى
b.      Pengertian Isim nakirah, isim ma’rifat, dhamīr,’alam, isim isyārat, dan  isim mawshūl,
Isim nakirah adalah isim yang tidak tertuju pada sesuatu, kabur, tidak jelas, jenisnya bersifat umum.
Isim ma’rifat adalah isim yang sudah ditentukan, menunjuk pada sesuatu, bersifat khusus dan jelas.
Dhamīr adalah adalah kata ganti yang menunjukkan ghāib (orang ketiga), mukhāthab (orang kedua), dan mutakallim (orang pertana)
‘Alam adalah adalah nama sebutan seperti زيد، هند، محمد
Isim isyārat  adalah isim yang digunakan untuk menunjukkepada manusia, hewan, benda di sekitar.
Isim mawshūl adalah isim yang digunakan untuk menghubung kata sehingga dapat menyempurnakan makna pada jumlah tersebut.

c.       Pengertian isim mudzakkar dan isim mua’nnats
Isim mudzakkar adalah kata benda yang berjenis laki-laki ataupun digolongkan sebagai jenis laki-laki
Isim mua’nnats adalah kata benda yang berjenis perempuan ataupun digolongkan sebagai jenis perempuan
d.      Pengertian mufrad, mutsannā, dan jama’ mudzakkar sālim, jama’ mua’nnats sālim, jama’ taksīr
Mufrad adalah isim yang berjumlah satu
Mutsannā adalah isim mu’rab yang berjumlah dua, dengan menambahkan alif dan nūn saat marfū’ atau ya’ dan nūn saat manshūb dan majrūr.
Jama’ mudzakkar sālim adalah bentuk jama’ dari isim berjenis laki-laki  yang menunjukkan jumlah tiga atau lebih dari tiga dengan cara menambahkan wāwu dan nūn saat marfū’ atau ya’ dan nūn saat manshūb dan majrūr.
 Jama’ mua’nnats sālim adalah bentuk jama’ dari isim berjenis perempuan  yang menunjukkan jumlah tiga atau lebih dari tiga dengan cara menambahkan alif dan tā’
 Jama’ taksīr adalah bentuk jama’ dari isim yang menunjukkan jumlah tiga atau lebih dari tiga dan bentuk jama’-nya berubah dari mufrodnya atau sama dengan mufrodnya
e.       Pengertian isim jāmid dan isim musytaq
Isim jāmid adalah isim yang asal-usulnya bukan dari fi’il, atau isim yang tidak dibentuk dari kata lain misalnya: حَجَر - دِرهَم

Isim musytaq adalah isim yang asal-usulnya dari fi’il قَرَأَ      قِرَاءَة
f.        Pengertian tashgir
Tashgir adalah mengecilkan atau merubah isim dalam bentuk tertentu dengan tujuan tertentu. dengan wazan  فُعَيلَةٌ


g.      Pengertian nisbat
Nisbat adalah pemberian ya’ yang ber-tasydid pada isim dengan maksud menisbatkan sesuatu kepada yang lain. الإندونسيّ
h.      Pengertian mubtada’, khabar, isim kanna, khabar inna, fa’il, nāibul fa’il, tawābi’
mubtada’ adalah isim marfū’ yang berada di awal kalimat, sedangkan khabar adalah penyempurna mubtada’[12] misalnya:   زَيدٌ قَائِمٌ kata زيد sebagai mubtada’ dan kata قائم sebagai khabar  
isim kanna, dan khabar inna sebenarnya hampir sama dengan mubtada’, khabar akan tetapi  terdapat huruf  إنّ dan كان misalnya:  إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  kata اللهَ ber-i’rob manshūb karena isim inna, kata غَفُورٌ ber-i’rob marfū’ karena khabar inna.
وَقَد كاَنَ فَرِيقٌ مِنهُم يَسمَعُونَ كَلَامَ اللهِ  (Al-Baqarah: 75) kata فَرِيقٌ ber-i’rob marfū’ karena isim kanna, kata كَلَامَ ber-i’rob manshūb karena khabar kanna
fa’il adalah  isim marfū’ yang menjadi pelaku pekerjaan
nāibul fa’il adalah isim marfū’ yang jatuh setelah fi’il mabnī majhūl, sedangkan mabnī majhūl adalah fi’il yang pelakun ya tidak diketahui atau tidak disebutkan, misalnya:فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى....(ال عمران: 25)
i.        Pengertian mafūl bih, maf’ūl mutlaq, maf’ūl liajlih, maf’ūl ma’ah, maf’ūl fih, hal, mustatsna, munāda, taymīz,
Maf’ūl bih  adalah isim yang menjadi objek penderita akibat dari perbuatan yang dilakukan fi’il atau fa’il contoh: كَتَبْتُ الدَّرْسَ kata الدَّرْسَ adalah Maf’ūl bih  
Maf’ūl mutlaq adalah bentuk mashdar yang satu lafazh dengan fi’il atau yang satu makna dengan fi’il untuk menjelaskan jumlahnya contoh:  وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا (النساء: 164) kata تَكْلِيْمًا Maf’ūl mutlaq dan mashdar dari fi’il كَلَّمَ
Maf’ūl liajlih adalah mashdar yang disebut setelah fi’il untuk menjelaskan sebab melakukanya sesuatu tersebut bersamaan dengan waktu dan fa’il-nya. Contoh: يَجْعَلُوْنَ اَصَبِعَهُمْ فِى أَذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ المَوْتِ (البقرة: 19)
Artinya: mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, ditinjau dari maknanya  yaitu kata sebab tersebut yang menjadikan Maf’ūl liajlih
Maf’ūl ma’ah adalah isim fadhlah yang dibaca nashab yang teletak sesudah wawu yang berarti bersamaan, beriringan. Contoh: فَاَجْمَعُوا أَمْرَكُمْ وَ شُرَكَاءَكُمْ (يونس: 71)  hurf وَ disini diartikan sebagai مَعَ
Maf’ūl fih adalah Maf’ūl yang menerangkan waktu kejadian adau tempat kejadian contoh:إِلَّا ءَالَ لُوطِ، نَجَّيْنَهُمْ بِسَحَرٍ (القمر: 34)  
Artinya: kecuali keluarga luth mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,  ini adalah zharaf zaman atau keterangan waktu, lafazh بِسَحَر
Hal adalah keadaan atau isim manshūb yang menjelaskan tentang keadaan ketika oerbuatan dilakukan. Contoh: إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا(يونس: 4)
Mustatsna  adalah isim yang jatuh setelah harf istisnā’ contoh: إِلَّا ءَالَ لُوطِ، نَجَّيْنَهُمْ بِسَحَرٍ (القمر: 34)
Munāda adalah isim zhāhir yang di dahului oleh salah satu huruf nidā’ (huruf untuk memenggil) contoh:يَأَيْهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 21)  
taymīz adalah isim nakiroh yang menyimpan makna min untuk menjelaskan benda atau nisbat menjadi lebih spesifik. أَشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا (مريم: 4)
j.        Pengertian idhāfat,
idhāfat adalah menyandarkan isim dengan isim yang lain sehingga dua isim tersebut bertalian membentuk satu penertian dan makna baru
k.       Pengertian isim syarath, Isim istifhām,zharaf mabni zharaf, isim fi’il
isim syarath adalah isim yang masuk pada dua jumlah untuk menjelaskan bahwa jumlah yang kedua tergantung keberhasilannya pada jumlah yang pertama contoh:
Isim istifhām adalah adalah isim untuk bertanya agar mendapat jawaban tentang benda atau suatu perkara, Isim istifhām juga disebut kata tanya
zharaf  adalah ism yang menunjukkan kata tempat atau waktu.
Isim fi’il adalah lafazh yang menempati posisi dari segi ‘amal-nya dan artinya akan tetapi tidak terpengaruh oleh ‘amil
Dalam nahwu terdapat dua jumlah. Jumlah yang pertama yaitu jumlah ismiyah dan jumlah yang kedua yaitu jumlah fi’liyah
jumlah ismiyah yaitu jumlah yang diawali dengan isim atau mubtadā’ dan kemudian diikuti oleh khabar contoh : الشَمْسُ تَدُوْرُ حَوْلَ الشَمْسِ kata الشَمْسُ adalah mubtadā, kata تَدُوْرُ berkedudukan sebagai khabar, حَوْلَ الشَمْس adalah idhafat yang berkedudukan sebagai maf’ul
jumlah fi’liyah yaitu jumlah yang diawali dengan fi’il dan kemudian diikuti oleh fā’il contoh : ذَهَبَتْ فَاطِمَةُ فِى المَسْجِدِ kata ذَهَبَتْ sebagai fi’il,  kata  فَاطِمَة sebagai fā’i, فِى المَسْجِدِ adalah jar majrūr
Hal-hal diatas adalah pembahasan sedikit tentang nahwu karena memeng lahirnya ilmu nahwu di latar belakangi oleh pembelajaran Al-Qur’an. Dahulu Al-Qur’an itu tidak berharakat atau tidak ber-syakhal dan dengan adanya ilmu nahwu dan sharaf akan mempermudah seseorang belajar membaca kitab yang tidak berharakat
Kesimpulan
            Para hafidz Al-Qur’an menjaga kemurnian Al-Qur’an dalam segala aspek termasuk bahasanya. Meskipun kemurnian, kemuliaan Al-Qur’an itu sudah tertera  dalam kitab  Allah SWT. Al-Qur’an sekaligus penyempurna dari kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan ke bumi. Al-Qur’an dijaga oleh Allah SWT dari segala  bentuk penyimpangan dan perubahan. Hubungan tahfidz Qur’an terhadap pembelajaran kaidah bahasa Arab yaitu: dengan adanya upaya para hafidz Qur’an terdahulu menjadikan kemurnian Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab  terjaga, sehingga terlahirlah ilmu nahwu dan sharaf.
            Pembekalan ilmu nahwu dan sharaf itu terlihat pada setiap ayat yang ada di dalam Al-Qur’an seperti contoh-contoh yang telah saya berikan diatas, yang kita harus pahami pertama kali adalah pembedaan isim, fi’il, harf  kemudian kita harum mengetahui jumlah fi’liyah dan jumlah ismiyah



Daftar pustaka
Al-Hafidz, Ahsin W. 2005.  Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an. Jakarta:      Bumi   Aksara.
Dodi, Limas. 2013. “Metode Pengajaran Nahwu Shorof”. Tafaqquh. 1, 1.
Fattāh, Yahya Abdul. 2010. Revolusi Menghafal Al-Qur’an. Solo: Insan Kamil.
Hermawan, Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung:          Remaja Rosdakarya.  
Ma’arif,  Syamsul. 2008. Nahwu Kilat. Bandung: Nusa Aulia.

Mahmudah, 2015, “Analisis Pengaruh Hafalan Al-Qur’an Terhadap Prestasi          Belajar Siswa di MA Al-Amiriyyah Blokagung Banyuwangi”. Jurnal            Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Islam. 1, VIII.
Salim, Ahmad Ghozali. 2015. “peran kitab suci Al-Qur’an dalam menjaga             eksistensi bahasa Arab”. OKARA. 1, X.
Syakur, Nazri. 2010.Revolusi metodologi pembelajaran bahasa Arab.        Yogyakarta: Pedagogia.                     

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar