Isim adalah kata benda atau kata kerja yang tidak disertai waktu contoh
الكِتاَبُ عَلَى الكِتَابِ
Fi’il (kata kerja) adalah kalimah yang memiliki arti tersendiri
bermakna melakukan suatu perbuatan, mampu memberi pengertian dan dipahami
meskipun berdiri sendiri. Fi’il juga disebut dengan kata kerja yang terikat oleh waktu yang dimaksud adalah waktu yang sudah
dilakukan (fi’il mādhi), waktu yang sedang berlangsung (fi’il mudhāri’),
dan waktu yang akan atau belum dilakukan, itu pada fi’il mudhāri’ dan amar
Harf
adalah kalimah yang dapat
berfungsi dengan baik apabila di rangkai atau digabungkan dengan fi’il dan isim.
1.
isim
Ilmu sharaf
|
Ilmu nahwu
|
1.
Bangunan
isim:
a.
Isim ghoiru shahīh ākhir
(maqshūr,
manqūsh, mamdūd)
b.
Isim shahiīh ākhir
2.
Nakirah
dan Ma’rifat
a.
Isim nakirah
b.
Isim ma’rifat: dhamīr,’alam, isim isyārat, isim mawshūl, isim
ma’rifat karena alif
lām, isim diidhāfatkan kepada ma’rifat munāda
3.
Jenis
isim
a.
Isim mudzakkar
dan isim mua’nnats
4.
Isim
dan jumlah
a.
Mufrad
b.
Mutsannā.
c.
Jama’: jama’ mudzakkar sālim, jama’ mua’nnats sālim, jama’ taksīr
5.
Rupa-rupa
isim
a.
Isim jāmid
b.
Isim musytaq
6.
Tashgir
7.
Nisbat
|
1.
Isim
mu’rob
a.
Isim marfū’:mubtada’, khabar, isim kanna, khabar inna, fa’il,
nāibul fa’il, tawābi’isim marfū’
b.
Isim manshūb: khabar kanna, isim inna, mafūl bih, mafūl mutlaq,
mafūl liajlih, mafūl ma’ah, mafūl fih, hal, mustatsna, munāda, taymīz,
tawābi’isim manshūb
c.
Isim majrūr: Isim majrūr karena
huruf jār, Isim majrūr karena idhāfat, Isim majrūr karena
tawābi’
2.
Isim
mabni
a.
Ddhamīr
b.
Isim isyārat
c.
Isim mawshūl
d.
Isim syarath
e.
Isim istifhām
f.
zharaf mabni zharaf
g.
Isim fi’il
|
a.
Pengertian
dari isim maqshūr, manqūsh, mamdūd
Isim maqshūr adalah isim mu’rob berhuruf akhir alif lāzimah atau tsābitah. Alif ditulis dalam
bentuk ا misalnya: العصاatau alif tersebut ditulis dalam bentuk ى misalnya: فتى .
Isim mamdūd adalah isim mu’rob yang huruf terakhirnya adalah hamzah, dan
sebelum hamzah adalah huruf alif zāidah ( ا )misalnya: سماء - صخراء
Isim manqūsh adalah isim
mu’rab yang huruf terakhirnya adalah ya’tsabitah (permanen) yang huruf
sebelumnya berharokat kasroh misalnya: الداعى
- الوادى
b.
Pengertian
Isim nakirah, isim ma’rifat, dhamīr,’alam, isim isyārat, dan isim mawshūl,
Isim nakirah adalah isim yang tidak tertuju pada sesuatu, kabur, tidak jelas,
jenisnya bersifat umum.
Isim ma’rifat adalah isim yang sudah ditentukan, menunjuk pada sesuatu, bersifat
khusus dan jelas.
Dhamīr adalah adalah kata ganti yang menunjukkan ghāib
(orang ketiga), mukhāthab (orang kedua), dan mutakallim (orang
pertana)
‘Alam adalah adalah nama sebutan seperti زيد، هند، محمد
Isim isyārat adalah
isim yang digunakan untuk menunjukkepada manusia, hewan, benda di sekitar.
Isim mawshūl adalah isim yang digunakan untuk menghubung kata sehingga dapat
menyempurnakan makna pada jumlah tersebut.
c.
Pengertian
isim mudzakkar dan isim mua’nnats
Isim mudzakkar adalah kata benda yang berjenis laki-laki ataupun digolongkan
sebagai jenis laki-laki
Isim mua’nnats adalah kata benda yang berjenis perempuan ataupun
digolongkan sebagai jenis perempuan
d.
Pengertian
mufrad, mutsannā, dan jama’ mudzakkar sālim, jama’ mua’nnats sālim, jama’ taksīr
Mufrad adalah isim yang berjumlah satu
Mutsannā adalah isim mu’rab yang berjumlah dua, dengan menambahkan alif
dan nūn saat marfū’ atau ya’ dan nūn saat manshūb
dan majrūr.
Jama’ mudzakkar
sālim adalah bentuk jama’ dari
isim berjenis laki-laki yang menunjukkan
jumlah tiga atau lebih dari tiga dengan cara menambahkan wāwu dan nūn
saat marfū’ atau ya’ dan nūn saat manshūb dan majrūr.
Jama’ mua’nnats sālim adalah bentuk
jama’ dari isim berjenis perempuan
yang menunjukkan jumlah tiga atau lebih dari tiga dengan cara
menambahkan alif dan tā’
Jama’ taksīr adalah
bentuk jama’ dari isim yang menunjukkan jumlah tiga atau lebih dari tiga
dan bentuk jama’-nya berubah dari mufrodnya atau sama dengan mufrodnya
e.
Pengertian
isim jāmid dan isim musytaq
Isim jāmid adalah isim yang asal-usulnya bukan dari fi’il, atau isim
yang tidak dibentuk dari kata lain misalnya: حَجَر
- دِرهَم
Isim
musytaq adalah isim yang asal-usulnya dari fi’il
قَرَأَ قِرَاءَة
Tashgir adalah mengecilkan atau merubah isim dalam bentuk tertentu dengan tujuan
tertentu. dengan wazan فُعَيلَةٌ
Nisbat adalah pemberian ya’ yang ber-tasydid pada isim dengan
maksud menisbatkan sesuatu kepada yang lain. الإندونسيّ
h.
Pengertian
mubtada’, khabar, isim kanna, khabar inna, fa’il, nāibul fa’il,
tawābi’
mubtada’ adalah isim marfū’ yang berada di awal kalimat, sedangkan khabar
adalah penyempurna mubtada’ misalnya: زَيدٌ قَائِمٌ kata زيد sebagai mubtada’ dan kata قائم sebagai khabar
isim kanna, dan khabar inna sebenarnya hampir sama dengan mubtada’,
khabar akan tetapi terdapat
huruf إنّ dan كان misalnya: إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ kata اللهَ ber-i’rob manshūb karena isim inna, kata غَفُورٌ ber-i’rob marfū’ karena
khabar inna.
وَقَد كاَنَ فَرِيقٌ مِنهُم يَسمَعُونَ كَلَامَ اللهِ (Al-Baqarah: 75) kata فَرِيقٌ ber-i’rob marfū’ karena isim
kanna, kata كَلَامَ ber-i’rob manshūb karena khabar kanna
fa’il adalah isim marfū’
yang menjadi pelaku pekerjaan
nāibul fa’il
adalah isim marfū’ yang jatuh
setelah fi’il mabnī majhūl, sedangkan mabnī majhūl adalah fi’il
yang pelakun ya tidak diketahui atau tidak disebutkan, misalnya:فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى....(ال عمران: 25)
i.
Pengertian
mafūl bih, maf’ūl mutlaq, maf’ūl liajlih, maf’ūl ma’ah, maf’ūl fih, hal,
mustatsna, munāda, taymīz,
Maf’ūl bih adalah isim
yang menjadi objek penderita akibat dari perbuatan yang dilakukan fi’il
atau fa’il contoh: كَتَبْتُ الدَّرْسَ kata الدَّرْسَ adalah Maf’ūl
bih
Maf’ūl mutlaq adalah bentuk mashdar yang satu lafazh dengan fi’il
atau yang satu makna dengan fi’il untuk menjelaskan jumlahnya
contoh: وَكَلَّمَ
اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا (النساء: 164) kata
تَكْلِيْمًا Maf’ūl
mutlaq dan mashdar dari fi’il كَلَّمَ
Maf’ūl liajlih adalah mashdar yang disebut setelah fi’il untuk
menjelaskan sebab melakukanya sesuatu tersebut bersamaan dengan waktu dan fa’il-nya.
Contoh: يَجْعَلُوْنَ اَصَبِعَهُمْ فِى أَذَانِهِمْ
مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ المَوْتِ (البقرة: 19)
Artinya:
mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar
suara) petir, sebab takut akan mati, ditinjau dari maknanya yaitu kata sebab tersebut yang
menjadikan Maf’ūl liajlih
Maf’ūl ma’ah adalah isim fadhlah yang dibaca nashab yang teletak sesudah wawu
yang berarti bersamaan, beriringan. Contoh: فَاَجْمَعُوا أَمْرَكُمْ وَ شُرَكَاءَكُمْ (يونس:
71)
hurf وَ disini
diartikan sebagai مَعَ
Maf’ūl fih adalah Maf’ūl yang menerangkan waktu kejadian adau tempat
kejadian contoh:إِلَّا ءَالَ لُوطِ، نَجَّيْنَهُمْ بِسَحَرٍ
(القمر: 34)
Artinya: kecuali keluarga luth
mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, ini adalah zharaf zaman atau keterangan
waktu, lafazh بِسَحَر
Hal adalah keadaan atau isim manshūb yang menjelaskan tentang
keadaan ketika oerbuatan dilakukan. Contoh: إِلَيْهِ
مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا(يونس: 4)
Mustatsna adalah isim yang jatuh setelah harf istisnā’ contoh: إِلَّا
ءَالَ لُوطِ، نَجَّيْنَهُمْ بِسَحَرٍ (القمر: 34)
Munāda adalah isim zhāhir yang di dahului oleh salah satu huruf
nidā’ (huruf untuk memenggil) contoh:يَأَيْهَا
النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ (البقرة: 21)
taymīz adalah isim nakiroh yang menyimpan makna min untuk
menjelaskan benda atau nisbat menjadi lebih spesifik. أَشْتَعَلَ
الرَّأْسُ شَيْبًا (مريم: 4)
idhāfat adalah menyandarkan isim dengan isim yang lain sehingga dua isim
tersebut bertalian membentuk satu penertian dan makna baru
k.
Pengertian
isim syarath, Isim istifhām,zharaf mabni zharaf, isim fi’il
isim syarath adalah isim yang masuk pada dua jumlah untuk menjelaskan bahwa
jumlah yang kedua tergantung keberhasilannya pada jumlah yang pertama contoh:
Isim istifhām adalah adalah isim untuk bertanya agar mendapat jawaban tentang
benda atau suatu perkara, Isim istifhām juga disebut kata tanya
zharaf adalah ism yang menunjukkan
kata tempat atau waktu.
Isim fi’il adalah lafazh yang menempati posisi dari segi ‘amal-nya
dan artinya akan tetapi tidak terpengaruh oleh ‘amil
Dalam nahwu terdapat dua jumlah.
Jumlah yang pertama yaitu jumlah ismiyah dan jumlah yang
kedua yaitu jumlah fi’liyah
jumlah
ismiyah yaitu jumlah yang
diawali dengan isim atau mubtadā’ dan kemudian diikuti oleh khabar
contoh : الشَمْسُ
تَدُوْرُ حَوْلَ الشَمْسِ kata
الشَمْسُ adalah
mubtadā, kata تَدُوْرُ berkedudukan
sebagai khabar, حَوْلَ الشَمْس adalah
idhafat yang berkedudukan sebagai maf’ul
jumlah
fi’liyah yaitu jumlah yang
diawali dengan fi’il dan kemudian diikuti oleh fā’il contoh : ذَهَبَتْ
فَاطِمَةُ فِى المَسْجِدِ kata
ذَهَبَتْ sebagai
fi’il, kata فَاطِمَة sebagai
fā’i, فِى المَسْجِدِ adalah
jar majrūr
Hal-hal diatas adalah
pembahasan sedikit tentang nahwu karena memeng lahirnya ilmu nahwu di latar
belakangi oleh pembelajaran Al-Qur’an. Dahulu Al-Qur’an itu tidak berharakat
atau tidak ber-syakhal dan dengan adanya ilmu nahwu dan sharaf akan
mempermudah seseorang belajar membaca kitab yang tidak berharakat
Para hafidz Al-Qur’an menjaga kemurnian Al-Qur’an dalam segala
aspek termasuk bahasanya. Meskipun kemurnian, kemuliaan Al-Qur’an itu sudah
tertera dalam kitab Allah SWT. Al-Qur’an sekaligus penyempurna
dari kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan ke bumi. Al-Qur’an dijaga oleh Allah
SWT dari segala bentuk penyimpangan dan
perubahan. Hubungan tahfidz Qur’an terhadap pembelajaran kaidah bahasa Arab
yaitu: dengan adanya upaya para hafidz Qur’an terdahulu menjadikan kemurnian
Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab
terjaga, sehingga terlahirlah ilmu nahwu dan sharaf.
Pembekalan ilmu
nahwu dan sharaf itu terlihat pada setiap ayat yang ada di dalam Al-Qur’an seperti
contoh-contoh yang telah saya berikan diatas, yang kita harus pahami pertama
kali adalah pembedaan isim, fi’il, harf kemudian kita harum mengetahui jumlah
fi’liyah dan jumlah ismiyah
0 komentar:
Posting Komentar