Artikel ini saya buat untuk memenuhi salah satu Tugas Akhir mata kuliah E-Learning kelas A
Nama : Iik Fitriatus Sanah
Nim : 932503015
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANG GURU DAN MURID
A. Latar Belakang
Sering kita menyebutkan dan juga
mendengar istilah guru dan juga murid, dalam dunia pendidikan baik formal
maupun non formal. Guru dan Murid adalah
komponen terpenting dalam pendidikan, guru dan murid merupakan tim suksek
terlaksananya sebuah program belajar-mengajar, karena adanya Hubungan timbal
balik antara pemberi ilmu dan juga penerima ilmu.
Oleh sebab itu kita sebagai calon
guru harus mengetahui apa makna seorang guru bagi kehidupan dan juga murid atau
pelajar. Kita tahu bahwa semua orang pasti melewati sebuah interaksi yang
bersifat belajar dan juga mengajar, baik disadari ataupun tidak disadari.
Karena pada dasarnya ilmu dapat digali dimanapun, kapanpun, dan juga siapapun. Bahkan
terdapat perkataan “jangan lihat siapa yang mengatakan, akan tetapi dengar dan
resapi apa yang mereka katakan” hal ini berarti seorang guru tidaklah harus
mempunyai pangkat, wajah yang enak untuk dipandang, dan usianya tidak harus
lebih tua dari pada pelajarnya.
Faktor umum antara guru dan murid
adalah bahwa ilmu pengetahuan seharusnya diberikan dan diterima, pada dasarnya
bukan untuk euntungan duniawi, tetapi untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal
ini karena satu-satunya tujuan pendidikan adalah pencerahan diri dan menyadari
Tuhan dengan menempuh hidup menurut ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunah.
B.
Rumusan
Masalah dan Tujuan
Pada zaman
sekarang ini, banyak orang yang tidak mengerti pentingnya adanya guru dan muri, juga banyak orang telah salah
mengartikan bahwa seorang guru haruslah berpangkat, dan tidak banyak juga yang
salah mengartikan Murid. Terkadang seorang guru juga lupa pada tugas-tugas
mereka mebjadi pendidik. Banyak dalam kasus-kasus kriminal seorang guru yang
menyelewengkan haknya. Dan banyak juga terjadi seorang murid yang berbuat
semena-mena, melupakan hakikat seorang pelajar.
Oleh sebab itu saya mengambil pembahasan tentang
pentingnya guru dan murid, tentang konsep guru, tugas seorang guru, dan juga
karakteristik guru yang baik. Dan juga membahas tentang Murid mengenai
pengertian murid, tugas dan kewajibanya, serta hal-hal yang menjadikan murid
ideal dan baik.
A. Tinjauan Filsafat Pendidikan
Islam tentang guru dan Murid
1.
Pentingnya Pendidik dan Murid
Guru dan Murid
adalah komponen terpenting dalam pendidikan. Pendidikan sendiri tidak bisa
dipisahkan dengan nilai. Dan nilai terbagi menjadi dua yaitu etika dan
estetika. Keberadaan guru adalah sebagai pemegang tongkat estafet yang berupa
nilai tersebut. Atau sering disebut dengan transfer of knowledge. Pendidik
teladan ada di dalam pribadi Rasulullah yang telah mencapai tingkatan
pengetahuan yang tinggi, akhlak yang luhur, menggunakan metode dan alat yang
tepat. Pernah sahabat Abu Bakar bertanya, “saya tidak melihat dan mendengar
seseorang yang lebih fasih dan lebih baik dari pada engkau, siapa yang telah
mendidik engkau ?” Rasulullah menjawab “Tuhanku telah mendidikku dengan
sebaik-baiknya pendidikan (ahsan ta’dib)”.[1] Sedangkan murid ada karena adanya nilai atau
ajaran yang dibawa oleh nabi disampaikan pada ulama’ atau guru yang harus
diestafetkan lagi pada murid untuk melestarikan nilai-nilai yang telah di bawa
guru dan ulama, karena guru mempunyai batas ruang dan waktu.
2.
Konsep
Pendidik
Salah satu unsur penting dalam proses
kependidikan adalah pendidik. Di pundak pendidik terletak tanggng jawab yang
amat besar dalam mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang
dicita-citakan. Hal ini di sebabkan pendidikan merupakan curtural trasition yang
bersifat dinamis ke arah suatu perubahan secara kontiniu, sebagai sarana vital
bagi membangun kebudayaan dan peradapan umat manusia. Dalam hal ini, pendidik
bertanggung jawab memenhi kebutuhan peserta didik, baik spritual, intelektual,
moral, estetika maupun kebutuhan pisik peserta didik.
Secara umum, pendidik adalah orang
yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik
dalam perspektifpendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung
jawabterhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan
seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun
pesikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.
Berdasarkan pengertian di atas,
maka dapat dipahami bahwa pendidikan dalam perkspektif pendidikan islam ialah
orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani
peserta didik mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan
tugas-tugas kemanusiaanya [baik sebagai khalifah fi al-ardh maupun
Ābd]sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Oleh karena itu, pendidikan
dalam konteksi ini bukan bukan hanya terbataspada orang-orang yang bertugas di
sekolah tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai
sejak alam kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai meninggal dunia.[2]
Risalh Filsafat Ghazali
mengemukakan bahwa guru atau ulama adalah seseorang yang memberikan hal apapun
yang bagus, positif, kreatif, atau bersifat membangun kepada manusia yang
sangat menginginkan, di dalam tingkat kehidupannya yang manapun, tanpa
mengharapan balasan uang kontan setimpal apapun.[3]
Islam mengajarkan bahwa pendidik
pertama dan utama yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani
dan rohani peserta didik adalah kedua orang tua. Islam memerintahkan kedua
orang tua untuk mendidik diri dan keluarganya, terutamanya anak-anaknya, agar
mereka terhindar dari azab yang pedih. Firman Allah :
ياايها الذين امنوا قوا انفسكم واهلكم نارا وقودها الناس
والحجارة عليها نلئكة غلاظ شداد لايعصن الله ما امرهم ويفعلون ما يؤمرونز
(التحريم: 6)
Artinya;
‘’hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu;penjaganya malaikat-malaikat yang asar, yang eras, yang tida
mendurhakai ALLAH terhadap apayang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At Tahrīm: 6).
Dilihat
dari beberapa aspek
profesionalisme, al-Mâwardî dan al-Ghazâlî mengemuakan bahwa (1) profesi guru
merupakan satu bentuk dedikasi kepada Allah yaitu pengabdian yang bernilai ibadah;
(2) profesi guru merupakan profesi yang memerlukan keahlian khusus; (3) dan
profesi guru harus dipegang oleh oleh orang-orang pilihan yang memiliki kompetensi
personal-religius.[4]
3. Tugas Pendidik Menurut Filsafat Pendidikan
Islam.
Dalam
Islam, tugas seorang pendidik dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia.
Posisi ini menyebabkan mengapa Islam menempat orang-orang yang beriman dan
berilmu pengetahuan lebih tinggi derajatnya bila dibandingkan dengan manusia
lainnya. Secara umum tugas pendidik adalah mendidik. Dalam operasionalnya, mendidik
adalah rangkaian proses mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum,
memberi contoh, membiasakan, dan lain sebagainya. Batasan ini memberi arti
bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengejar sebagaimana pendapat
kebanyakan orang. Di samping itu, pendidik juga bertugas sebagai motivator dan
fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta
Didik dapat mengaktualisasi secara baik dan dinamis.
Tugas pendidik antara lain :
1.
Sebagai
pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran,
melaksanakan program yang disusun, dan akhirnya dengan pelaksanaan penilaian
setelah program tersebut dilaksanakan.
2.
Sebagai
pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta Didik pada tingkat kedewasaan
kepribadian sempurna, seiring dengan tujuan pencipta-Nya.
3.
Sebagai
pemimpin yang memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, peserta didik,
maupun masyarakat), upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian,
pengontrolan, dan partisipasi atas program yang dilakukan.
Imam
Al-Ghazali mengemukakan bahwa tugas pendidik
yang utama hujjatul Islam, adalah menyempurnakan, membersihkan,
mensucikan, serta membawa hati manusia untuk taqarrub ila Allah. Dan Tazkiyat
an-nafs, yaitu mengembangkan, membersihkan, mengangkat jiwa peserta didik
kepada Khaliq-Nya, menjauhkannya dari kejahatan, dan menjaganya agar tetap
berada pada fitrah-Nya.[5]
4.
Karakteristik
Pendidik
Dalam
pendidikan islam, seorang pendidik hendaknya memiliki karakteristik yang dapat
membedakanya dari yang lain. Dengan karakteristiknya, menjadi ciri dan sifat
yang akan menyatu dalam seluruh totalitas kepribadianya. Totalitas tersebut
kemudian akan terakstualisasi melalui seluruh perkataan dan perbuatanya. Dalam
hal ini, an-nahlawi membagi karakteristik pendidik muslim ke dalam beberapa
bentuk, yaitu:
- a. Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
- b. Bersifat ikhlas; melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan menegakkan kebenaran.
- c. Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
- d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
- e. Senantiasa membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri untuk terus mendalami dan mengkajinya lebih lanjut.
- f. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi. sesuai dengan prinip-prinsip penggunaan metode pendidikan.
- g. Mampu mengelola peserta didik dan kelas, tegas dalam bertinda dan proporsional
- h. Mengetahui kehidupan Psikis peserta didik
- i. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia, yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berfikir peserta didik.
- j. Berlau adil terhadap peserta didiknya.[6]
5.
Makna Peserta Didik
Peserta didik adalah manusia yang
memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang
harus di penuhi. Diantara kebutuhan tersebut adalah kebutuhan biologis,kasih sayang,
rasa aman, harga diri, realitas diri dan sebagainya. Kesemuanya itu penting
dipahami oleh pendidik agar tugas-tugas kependidianya dapat berjalan secara
baik dan lancar.
Risalah filsafat ghazali mengemukakan
bahwa seorang pelajar adalah orang yang mempelajari ilmupengetahuan berapapun
usianya, dariman pun, dimana pun, siaa pumn, dalam bentu apapun, dalam biaya
apapun untuk meningkatkan intelek dan moralnya dalam rangka mengembangkan dan
membersihkan jiwanya dan mengikuti jalan kebaikan.[7]
Murid
adalah orang-orang yang
mengabdi demi kepentingan
agama bukan kepentingan material,
kekuasaan popularitas dan
lainnya. Sedang sebutan musâfirûn
dan sâlikûnmenunjukkan bahwa
murid adalah orang
yang dinamis dan selalu aktif
bergerak menjalani kehidupannya
untuk mencapai tujuan puncaknya.[8]
6.
Tugas dan Kewajiban
Peserta Didik
Agar pelaksanaan
proses pendidikan islam dapat mencapai tujuan yang di inginkanya, maka setiap
peserta didik hendak nya senantiasa menyadari tugas dan kewajibanya. Menurut
asma hasan fahmi, diantara tugas dan kewajiban yang perlu di penuhi peserta
didik adalah:
a.
Peserta didik
hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu. Hal ini di
sebabkan karena belajar adalah ibadah dan tidak sah
kecuali ibadah dengan hatinya yang bersih.
b.
Tujuan belajar
hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.
c.
Memiliki
kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat
d.
Setiap peserta
didik wajib menghormati pendidik nya.
e.
Peserta didik
hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.
7.
Sifat-Sifat Ideal Peserta Didik
Dalam upaya mencapai tujuan
pendidikan Islam, peserta didik hendaknya memiliki dan menanamkan sifat yang
baik dalam diri kepribadiaannya. Menurut Imam Al-Ghozali terdapat 10 sifat yang
yang harus dimiliki peserta didik
1) Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Hal ini
bearti seorang murid akan senantiasa mensucikan diri dengan akhlāq
al-karīmah setiap harinya.
2) Mengurangi kecenderungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrowi atau
sebaliknya.
3) Bersifat tawadhu’(rendah hati )
4) Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai
aliran.
5) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum maupun ilmu agama
6) Belajar secara bertahap atau berjenjang
7) Mempelajari satu ilmu sampai tuntas baru kemudian ilmu lainnya
8) Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9)
Mengutamakan
ilmu agamasebelum memasuki ilmu duniawi.
10) Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan.[9]
Al-Ghazâlî mengemukakan batasan-batasan murid ketika dalam proses
belajar, di antaranya; (1) jangan berbicara kalau belum mendapat izin, (2)
jangan berbicara dengan teman
ketika guru menyampaikan
materi, (3) jangan
bertanya kalau belum
mendapat izin, (4) jangan
banyak bertanya ketika
kondisi psikologis guru
tidak mendukung baik
karena ia jenuh, sedih,
mendapat problem atau
sebab lainnya; (5)
jangan bertanya ketika
guru berdiri hendak meninggalkan tempat
belajar, (6) jangan
bertanya pada guru
ketika ia berada
di jalan menuju rumahnya; (7) jangan menanyakan
sesuatu masalah yang jawabannya belum terjangkau oleh akal murid sendiri,
(8) jangan menyampaikan pendapat orang lain yang
bersifat kontradiktif dengan pendapat gurunya
dengan maksud menentang
gurunya, dan (9)
jangan menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan atau mengindikasikan
dirinya lebih tahu daripada gurunya mengenai masalah yang didiskusikan.[10]
Kesimpulan
Guru dan murid
adalah proses timbal balik guru sebagai pemberi nilai dan murid sebagai
penerima nilai. Guru membawa nilai-nilai yang telah diajarkan oleh
Rasulullah, dan murid menerima dan
melestarikan nilai-nilai tersebut. Dan mereka berdua penting karena guru
mempunyai batas ruang dan waktu.
Guru
atau ulama adalah seseorang yang memberikan hal apapun yang bagus, positif,
kreatif, atau bersifat membangun kepada manusia yang sangat menginginkan, di
dalam tingkat kehidupannya yang manapun, tanpa mengharapan balasan uang kontan
setimpal apapun. Bertugas menjadi Intruksional, edukator, dan juga pemimpin
baik diri sendiri maupun peserta didik.
Guru
yang baik mempunyai sifat ikhlas karena Allah, jujur dengan apa yang dia
ketahui, penyabar, berakhlaq Al-karimah, mengetahui kondisi siswa dan
kelas, berlaku adil, mampu menggunakan metode dan media pembelajaraan yang
sesuai dengan kondisi kelas dan peserta didik. Bersifat dinamis dan mampu
mengikuti perkembangan zaman yang tidak menyimpang dari dunia Pendidikan Islam.
Pelajar adalah orang yang mempelajari ilmupengetahuan berapapun usianya,
dariman pun, dimana pun, siaa pumn, dalam bentu apapun, dalam biaya apapun
untuk meningkatkan intelek dan moralnya dalam rangka mengembangkan dan
membersihkan jiwanya dan mengikuti jalan kebaikan.
Bertugas Peserta didik hendaknya
senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu. Hal ini di sebabkan
karena belajar adalah ibadah dan tidak sah kecuali ibadah dengan hatinya yang
bersih., Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai
sifat keutamaan, Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di
berbagai tempat, menghormati pendidik,
belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.
Sifat-sifat pelajar Ber-akhlāq al-karīmah, tawadhu’(rendah
hati )menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai
aliran, mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum maupun ilmu agama, belajar
secara bertahap atau berjenjang, mempelajari satu ilmu sampai tuntas baru
kemudian ilmu lainnya, memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang
dipelajari, mengutamakan ilmu agamasebelum memasuki ilmu duniawi, mengenal
nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan
(Komparasi
Antara Al-Mawardi Dan Al-Ghazali), Kalimantan; Vol. 14. No.2
Desember 2016. Hal 44







0 komentar:
Posting Komentar